Sesuatu Yang Pantas Diperjuangkan

~When I Was Your Man – Bruno Mars~

Terpaku mendengar alunan lirik Bruno Mars dari iPod yang selalu dibawa nya kemana-mana, menunggu kereta api jurusan Yogyakarta pagi ini terasa sangat lama dan meresahkan buat Rio.

Semalaman hingga pagi ini, oh bukan, melainkan sejak dua bulan lalu ia tak berhenti mengutuki kesalahan bodoh nya. Yang membuat ia harus menanggung keresahan & rasa bersalah yang tak kunjung hilang.

Kini, ia harus mengejar kembali apa yang telah ia campakan , ia lepas & buang begitu saja. Ya, kini giliran nya.

Dia, sangat sayang padaku, dia membuatku nyaman selama kamu gak ada.

Aku rasa dia pun menaruh harap padaku, dia akan mengutarakan nya malam ini, semuanya.

Dua baris kalimat pada layar chat Whatsapp Rio kemarin sore membuatnya marah & sedih. Marah, akan kebodohan yang telah ia perbuat & sedih karena seseorang yang baru ia sadari sangat berharga setelah mereka mengakhiri hubungan , kini telah merasa nyaman dengan hati orang lain.

Tanpa pikir panjang malam itu juga, iya sibuk mencari tiket kereta apa saja menuju Yogyakarta, kereta paling pagi. 

“Syukurlah” setengah lega ia berharap, besok ia masih punya kesempatan untuk mengambil kembali apa yang telah ia buang, memperbaiki apa yang telah ia rusak & memohon kembali apa yang telah ia campakan.

“Tunggu aku, aku besok akan menemuimu”

Pesan whatsapp terakhir dari Rio yang tak kunjung dibalas oleh Lea hingga pagi ini. Tatapanya tak pernah lepas dari layar ponsel nya, masih menunggu balasan, sambil menunggu kedatangan kereta harapan, harapan yang mungkin telah sirna.

~Try – Asher Book~

“Itu bukan salah aku. Iya, bukan salah ku kalau aku merasa nyaman saat ini dengan orang lain. Aku harus menyelamatkan hatiku. Iya, hati ini perlu diselamatkan” pikiran-pikiran ini seketika muncul setelah ia mengirimkan pesan terakhir pada Rio sore tadi.

Sebenarnya, sejak mengambil keputusan mengakhiri hubungan nya dengan Rio, hidup Lea tak pernah tenang. Ia menyesali segala keputusan mengakhiri hubungan dengan lelaki yang telah bersama nya sejak sepuluh bulan ini. Tapi yang paling ia sesali adalah sikap Rio, sikapnya yang ternyata tak berusaha mempertahankan hubungan itu. Hubungan yang sebenarnya tidak lagi sehat, namun kedua nya masih saling membutuhkan dan dalam hati mereka masing-masing, masih saling menyayangi.

Selama, sepuluh bulan juga Lea tak henti nya menahan sakit, menahan sakit atas segala perilaku Rio yang sepertinya tidak pernah menghargai kehadiran Lea. “Tidak berarti”, begitu Lea menyebut dirinya untuk Rio. Tapi ia terus bertahan karena rasa sayang nya pada Rio yang bisa dibilang, tanpa syarat.

“Yaudah lah, aku juga udah gak mau kembali ke masa itu, untuk apa? Saat ini ada yang lain yang membuat aku selalu berarti tiap harinya” , gumam Lea sambil membenarkan pakaian nya. Malam ini sesorang yang telah mengobati hati nya yang telah terluka dalam karena Rio akan menyatakan sesuatu yang sepertinya penting untuk mereka berdua.

Tiitt.. Tiiittt!! 

Suara motor di luar pagar menandakan waktunya ia pergi dan menetapkan hati nya malam ini. 

“Dimana ya HP ku, ah ini dia. Hmm ini…” seketika Lea terhenti, menatap pada suatu benda yang ia kenal betul yang selama dua bulan ini tak ia pakai lagi, terletak tepat disebelah ia meletakan ponsel nya. Sebuah jam tangan mungil pemberian Rio. Seketika semua momen yang telah ia kunci dalam kotak kenangan itu keluar secara amburadul dari dalam kotak. Membuat nya teringat hal-hal kecil yang menyenangkan yang pernah ia jalani & rasakan bersama Rio. Rio yang dulu merupakan lelaki lembut yang selalu membuatnya tersenyum hanya dengan menatap wajahnya yang “bodoh” .

Malam itu, ia pergi dengan setetes air mata untuk Rio, untuk kenangan mereka.

~One Last Cry – Brian McKnight~

Masih, masih menatap pada layar ponsel yang bergeming tak memberi jawaban. Teringat ia pada kesalahan, kesalahan bodohnya terhadap Lea, wanita yang dengan tulus menyayangi nya. Tapi, dalam perjalanan kisah mereka, keraguan pada diri Rio membuat nya menyalahkan banyak hal kepada Lea. Mencoba mencari pembenaran atas segala kesalahannya, justru memperburuk keadaan mereka. 

Rio tak tahu apa yang ia inginkan dari hubungan mereka, hubungan seperti apa. Ditambah kedekatannya dengan wanita lain membuat semua semakin memburuk. Hal yang membuat hubungan mereka menjadi tidak sehat.

Baru ia sadari keberadaan Lea justru ketika ia merasa akan kehilangan dirinya. Bukan, ketika Lea mengakhiri hubungan mereka. Justru sakit dan kesedihan itu baru muncul ketika ia tau ada sosok lain yang mungkin akan menggantikan posisi nya di hati Lea, hati wanita yang selama ini ia campakan.

Tujuan nya kali ini menemui Lea yang sedang mengamankan hatinyan di Yogyakarta, tidak lain untuk memohon hatinya kembali, dirinya kembali.

Memang, ketika kita sudah memiliki seseorang yang sebenarnya sangat sempurna bagi kita, kita justru lebih sering mengabaikan nya, mencampakan nya, berusaha mencari sosok lain yang lebih baik dari diri nya. Kita, baru akan sadar betapa sempurna nya sosok orang yang menyayangi kita dengan tulus tersebut justru ketika dia menghilang dari hidup kita.

Penyesalan selalu datang belakangan.

Setidaknya sebelum orang itu seutuh nya menjadi milik yang lain, tugas kita lah menjemput & memperjuangkan kesempatan yang ada, walau itu sedikit. 

“Maaf..” , ya hanya kata itu yang bisa terlontar dari bibir Rio.

Pengeras suara di stasiun menginformasikan kereta tujuan Yogyakarta akan segera tiba sebentar lagi. Saat itu pula masuk pesan yang ia tunggu-tunggu dari Lea…

~Cinta Tanpa Syarat – Afgan~

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Sesuatu Yang Pantas Diperjuangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s