Revenge

Isak tangis Lea terdengar dari dalam ruangan dimana Rio berada. Ruangan tak berpintu dimana Rio meringkuk dengan tatapan kekecewaaan & kesedihan teramat sangat. Sebuah keanehan akan langsung terlihat ketika memperhatikan Rio dari luar ruangan kubus yang berfentilasikan lubang-lubang kecil pada tiap sisi nya. Sebilah pisau yang sangat tajam menancap tepat pada tempat jantung Rio berada. Pisau itu tak menyebabkan pendarahan, tak ada darah, namun pisau itu meninggalkan rasa sakit yang teramat hebat. Entah kapan rasa sakit itu akan hilang, bahkan meskipun pisau itu dicabut nanti, sepertinya rasa sakit itu akan terus ada, membekas & dalam.

Mungkin itu yang ingin Lea berikan kepada Rio. Sebuah balas dendam akan apa yang pernah ia rasakan dulu akibat segala sikap & perlakuan Rio padanya. Sebenarnya Rio sudah siap dengan hal ini, namun ternyata Rio tidak siap sama sekali untuk rasa sakit yang ditimbulkan. Sama sikali tidak. Namun dalam hal ini, Lea sangat berhasil melakukan nya.

“Kamu berhasil melukaiku sayang, akhirnya kamu berhasil..” Senyum pahit mengembung dari bibir Rio yang terlihat pucat. Disusul isak tangis Lea dari luar ruangan. Jika tidak ada Chris, mungkin Lea tak akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri yang mungil saat itu.

Chris adalah lelaki asal Canada yang menjadi orang yang berada dalam skenario balas dendam Lea untuk Rio. Lea & Chris sukses melakukan aksi mereka dan menyebabkan Rio merasakan kebencian yang dirasakan Lea selama ini.

Apakah Lea bahagia?

Mungkin.

Apakah ini benar-benar yang diinginkan Lea?

Mungkin.

Rio menatap wajah Chris, membandingkannya kepada dirinya sendiri. Apa yang kurang dari dirinya sehingga sebegitu nya kah Lea tega menghianati segala perjuangannya selama ini. Rasa sakit yang semula hanya berada di area dada kini menjalar ke seluruh tubuh Rio. Tak bisa ia membayangkan ide mengenai hubungan Lea & Chris. Hubungan yang dibangun di atas hubungannya dengan Lea. Firasat Rio selama ini tidak pernah salah mengenai hubungan Lea dengan lelaki yang sedikit lebih tua dari kekasihnya itu, mantan kekasih nya kini.

Rio sangat tidak menyukai ide dimana Lea harus menjadi travel mate Chris selama seminggu ini perjalanan mereka ke Dieng & Bali. Chris yang selama ini sudah sangat dekat dengan Lea karena Chris adalah peserta Student Exchance di kampus Lea dan selama berada di Indonesia. Lea juga lah yang menjadi guide & teman pendamping Chris selama ini. Kedekatan mereka berdua terasa aneh di mata Rio. Hal ini yang membuat Rio sangat tidak menyukai Chris dan juga ide dimana mereka akan bepergian selama seminggu bersama.

Segala firasat yang dirasakan Rio pun terjadi. Selama perjalanan mereka berdua, entah itu yang disebut sengaja atau tidak, hubungan Chris & Lea berjalan ke arah yang berbeda, sampai dimana mereka mengikat janji untuk bersama.

Lea merasa nyaman kepada Chris, begitu juga sebaliknya. Rasa dendam yang masih dimiliki Lea terhadap Rio kian menguatkan motivasinya untuk menjalin hubungan itu dengan Chris. Sesampainya mereka di Jakarta, mereka segera memproklamirkan hubungan tersebut kepada Rio, di depan matanya. Seketika itu juga, apa yang selama ini Rio bayangkan benar-benar menjadi kenyataan. Kesulitannya menerima kenyataan membuatnya tak kuasa menahan kedua tangannya yang bergerak mengambil sebilah pisau tajam yang dengan pasti ia tancapkan tepat pada jantungnya. Tak ada sakit. Oh ada, sakit itu bukan dari luka sebilah pisau tersebut, rasa sakit itu ada dan sangat dalam , luka itu lebih kepada luka yang merasuk di hati nya. Rasa sakit yang tak akan pernah hilang (mungkin) untuk waktu yang cukup lama.

“Happy Birthday Chris, you already got the best gift ever in your life. Goodbye Lea, i hope he’ll make you happy forever as you wished” , senyum pahit itu kembali muncul dari wajah manis Rio yang akan terekam jelas dalam bayang-bayang Lea yang akan membuatnya menyesali hal ini seumur hidup nya.

Akhirnya Rio pun meneteskan air mata terakhir nya di hadapan Lea & Chris, seketika itu juga sebelum iya tak sadarkan diri, ia teringat salah satu pesan sahabatnya. Iya pun dapat pergi dengan tenang , senyum pahit itu berubah menjadi sebuah senyum manis di akhir perjalanannya.

Selalu Bahagia! Hidup tidak lama, jangan pernah habiskan waktu kita untuk menyimpan dendam, amarah, kesal, dan lain-lain.

Advertisements

2 thoughts on “Revenge

  1. ceritanya nampar nih. Aku juga pernah jadi travel mate seorang bule dan gak lama pacarnya marah-marah sm aku karena akunya ramah dan dekat selama perjalanan. Padahal kan, ramah menjadi tugas seorang guide. Kalo kayak kasus Lea sih, dianya aja yang gatau diri. *jadi tsurhat*

    btw titip koreksi dikit. yang benar di depan, bukan didepan. Sama ada kurang huruf L di ‘muncul’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s