Saya Tidak Tertinggal, Berhati-hati lah !

Do not ever think it’s the end. It’s just your beginning.

Akhir tahun 2013 kemarin, sepertinya banyak dari beberapa teman gue merayakan selebrasi atas kelulusan mereka dari perguruan tinggi. Mereka terlihat, tampan & cantik serta, ya jika mau disebut ber-tittle. Mereka berlomba-lomba memenuhi linimasa facebook dengan postingan foto-foto wisuda mereka. Sebagian adalah sahabat dekat gue. Melihat hal tersebut membuat gue seneng dong pastinya. Sahabat seangkatan lulus SMA empat tahun lalu sudah menyelesaikan pendidikannya.

“Lantas, apa kabar sama lo Choy?”

Gue Alhamdulillah baik-baik aja 🙂

“Bukan itu yang gue maksud Choy -_-“, maksud gue apa kabar lo, kok belum lulus kuliah nya?”

Perlu banget gue jawab apa perlu banget gue gampar mulut lo?

“Jawab aja deh Choy 😦 “

Ok, gue jawab.

Memang, gue dan sahabat-sahabat gue yang-sedang-asyik-berlomba-memamerkan-foto-wisuda-nya-di-facebook lulus secara bersama-sama. Tapi, jalur yang gue tempuh sedikit berbeda dengan mereka. Gue memutuskan untuk bekerja terlebih dulu meski hati ini dulu merintih dan menjerit ingin merasakan duduk di bangku perkuliahan dan memiliki kesempatan belajar yang sama dengan mereka. Gue sadar, keberuntungan & keadaan belum memihak ke gue pada waktu itu. Atau mungkin Allah cuma kepengen gue belajar dari hal lain selain kuliah, belajar memaknai hal lain di luar kelas. Belajar merasakan apa sih yang dirasakan kedua orang tua gue dahulu ketika selepas lulus dari bangku sekolah menengah atas dan bahkan ibu gue hanya sebatas lulusan bangku sekolah menengah pertama, setelah lulus langsung bekerja. Allah memang punya cara yang hebat untuk mengajarkan sesuatu kepada mahluknya. Terlebih ke gue yang lucu dan imut ini #plak.

Setelah lulus, gue sempat menganggur beberapa bulan dan hanya melakukan pekerjaan rumah biasa, galau-galauan, marah-marah dan sms-an sama pacar (jaman dulu belum hits BBM sama Whatsapp ya!). Sungguh membuat gue stress dan merasa gila sama keadaan itu. Gue pun merasa harus cari kerja. Proses pencarian kerja gue pada waktu itu pun tidak semudah membolak balik gorengan bakwan dalam wajan. Gue jadi belajar ngerasain gimana sih rasanya jadi orang susah cari kerja? Mengelilingi kawasan industri mengetuk pintu demi pintu menanyakan apakah ada lowongan kerja tersisa untuk anak lulusan SMA satu ini? Oh ya jaman itu gue belum punya kendaraan motor sendiri. Tidak jarang gue pergi sendiri dan naik kendaraan umum atau berjalan kaki. Terkadang gue ditemani sahabat gue Tian & Agus yang juga memiliki jalan hidup yang agak mirip untuk hal yang satu ini. Kami mengendarai motor kesana kemari mencari kerja. Sempat merasa sedih dan terpuruk ketika hanya tinggal gue yang tersisa dan belum dapat kerja padahal yang lainnya udah. Berasa mau jadi gila! Percayalah, berpendidikan rendah itu tidak lah enak! Mencari kerja itu tidaklah enak dan memang susah! Yang lulusan S1 aja banyak yang susah cari kerja, gimana gue????

Kita memulai pada garis start yang sama, kita hanya menempuh lintasan yang berbeda untuk sampai ke garis finish. Lintasan yang gue tempuh lebih panjang dan berliku dari kalian, itu aja.

Suatu ketika gue mendapatkan pekerjaan, dari seorang sahabat dekat bernama Nur Alfita, wanita mungil yang cerdas yang merupakan seorang murid cewek paling pintar di kelas menawarkan pekerjaan di tempat ia bekerja. Disini lah koneksi bekerja. Gue diterima di tempat ia bekerja saat itu. Ita, panggilan teman gue, saat itu bekerja sebagai admin. Pekerjaan yang “cukup” menyenangkan saat itu. Harapan gue melambung tinggi membayangkan bekerja di bagian sama seperti Ita. Namun harapan gue langsung segera diluluh lantahkan dengan ditempatkannya gue di bagian produksi. Mau tau kerjaannya seperti apa? Bayangkan sebuah ruang 3m x 15m ber AC dan ruangan itu sangat bau sekali dengan cairan kimia dari tinta atau cat yang digunakan dalam proses produksi dan gue harus kerja diruangan itu berdiri selama 7-8 Jam sehari 🙂 . Hari pertama kerja gue bergumam dalam hati “Anjing! Tempat apaan ini! Gue kayaknya harus segera keluar dari sini!” saking gak tahannya gue sama atmosfer di dalam ruangan itu. Terlebih mengingat gue masih dalam proses terapi penyakit pernafasan yang cukup menyebalkan (TBC). Gue pikir gue bakal mati kalo aja kerja disini dalam waktu tiga hari.

Tapi pada hari ke-3 setelah gue beradaptasi dengan lingkungan kerja dan pekerjaannya, akhirnya gue memutuskan untuk stay (back sound Stay – Rihanna) “Gue gak mau lagi balik ke kamar gue di rumah, ngelamun, galau-galauan gak produktif dan ngabisin uang orang tua doang. Seenggaknya gue bisa membiayai kebutuhan pribadi gue”. Pikiran itu menyelamatkan gue sampai dengan satu tahun. Alhamdulillah gue bekerja jadi operator hanya 3 bulan, dengan kebaikan hati manager pada kala itu Pak Adi, yang mengangkat gue jadi staff admin karena gue dirasa mampu mengoperasikan komputer dan juga ganteng #plak. Selama setahun itu gue belajar banyak hal di pabrik itu, banyak banget. Dari sisi manajemen kantor, mempelajari karakter manusia, komunikasi, dan tentu aja kalo mau bertahan hidup lo harus kerja, kerja keras!.

Lagi-lagi gue menjadi orang beruntung dan diuntungkan oleh yang namanya koneksi. Gue ditawari sahabat gue Rheny, untuk bekerja di kantor tempat dia bekerja. Sedang membutuhkan laki-laki yang bisa berbahasa Jepang dan bisa mengoperasikan komputer dengan baik. Gue yang saat itu bahasa Jepang nya masih level basic banget dengan percaya diri mengiyakan tawaran kerja itu. Ternyata kerjaan gue sebagai pembuat invoice dan memang harus sering berhadapan dengan orang Jepang di kantor. Untunglah pada saat itu Ms. Hara-san yang akan selalu berhubungan dengan gue dapat berbahasa Inggris , HAHAHAHAHA! Gue dapat bekerja disitu pun berkat jasa sahabat gue tadi Rheny, yang ternyata ia adalah kerabat dari GM perusahaan itu, dan pekerjaan gue sebagai invoicer hanya sementara dan selanjutnya dijadikan staff Bapak GM tersebut nantinya. Well, it was a good sign right?

Selama 3 tahun gue bekerja di perusahaan itu dan berbagai departemen sudah gue masuki untuk bekerja disana. Gue bekerja gak hanya di satu bidang pekerjaan melainkan di beberapa bidang yang berbeda dan justru itu semua memperkaya pengalam gue. Gue meraup banyak banget kemampuan & pengalaman serta pelajaran baru diperusahaan itu. Jadi ketika gue keluar dari pekerjaan itu dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja paruh waktu, gue sudah cukup siap.

Ya, gue baru memulai perkuliahan setelah empat tahun gue bekerja. Itu pun mengalami fluktuasi semangat loh, gak selalu lempeng terus. Ada kalanya gue berfikir untuk tidak berkuliah saja. Terlebih ketika Ayah gue gak setuju banget mendengar gue mau keluar dari kerjaan yang lalu padahal gue udah jadi karyawan tetap. Beliau pikir kalau gue kerja sambil kuliah saja. Gue gak bisa, memprioritaskan pekerjaan dan disela-sela itu menjalani kuliah. Awalnya gue berfikir gue sanggup, tapi dipikir-pikir lagi, gue mau serius kuliah. Bukan kerja full dan diselingi kuliah, gue gak bisa kaya gitu. Yang ada bisa gak fokus di keduanya nanti. Akhirnya gue pun tetap memberikan pengertian gue akan kuliah sambil kerja. Kuliah sebagai kewajiban dan dilakukan dengan porsi waktu yang banyak lalu bekerja paruh waktu.

Semangat gue terbangun untuk kembali kuliah berkat bertemu dengan orang-orang baru dalam hidup gue yang banyak membuka mata gue terhadap hidup ini. Mulai dari teman-teman di #KeluargaApel , teman-teman pecinta jalan-jalan dari @TravelTroopers yang selalu memotivasi gue dengan cara mereka asing-masing, serta pribadi mereka masing-masing memotivasi gue. Terakhir berkat abang @acentris juga lah gue bisa berada pada titik gue sekarang ini. Berlaku sebagai seorang kakak, yang juga kisah hidupnya penuh liku bagai sinetron. Dari dia lah gue memperoleh pekerjaan freelance bersama rekan-rekan #Polarisian dan dengan bantuan semangat & motivasi mereka lah sampai akhirnya gue bisa berkuliah sekarang.

Gimana? Cukup panjang kan ceritanya? Kayaknya itu pun udah gue ringkas seringkas-ringkasnya hahaha!

Intinya, lo boleh adu pengalaman lo selama mengambil pendidikan di bangku kuliah dengan gue yang empat tahun bekerja dan baru mulai kuliah. Maaf, bukan gue sombong, tapi gue percaya sama diri gue sendiri kalau gue gak tertinggal. Bahkan ketika gue masuk ke bangku kuliah sekarang gue gak merasa tertinggal sama sekali. Alhamdulillah gue bisa membabat segala mata kuliah di semester pertama dengan cukup baik. Gue percaya ini akan berjalan dengan baik seraya usaha yang gue jalankan. Gue serius dalam hal ini. Gue mencurahkan fokus gue pada pendidikan gue sekarang.

Minder? Hmmm merasa agak sedikit sedih sih iya ya karena mereka udah lulus tapi gue belum. Loh tapi ngapain gue sedih? Gue justru harusnya bangga dengan segala apa yang gue alami dan gue dapat selama ini. Perjalanan gue semuanya memberikan pelajaran dan makna yang belum tentu lo semua dapetin di bangku kuliah dan gue sudah mendapatkannya. Jadi gue tidak perlu menyesal dan sedih sama sekali akan hal itu. Gue tidak merasa tertinggal kok.

Kita memulai pada garis start yang sama, kita hanya menempuh lintasan yang berbeda untuk sampai ke garis finish. Lintasan yang gue tempuh lebih panjang dan berliku dari kalian, itu aja. Lagipula garis finish kita pun masing-masing masing berbeda kok. Yang terpenting bukankah apa yang kita dapatkan dan pelajari selama berada di lintasan yang kita jalani?

Sekali lagi, gue tidak tertinggal ! Jadi berhati-hatilah dengan langkah kalian. Bisa saja gue ternyata sudah berada jauh di depan kalian loh !

Salam Ganteng!

Salam Semangat!

I Love Lou bibeh!

PS: Saya tidak bermaksud mengumbar kesulitan cerita hidup saya dalam tulisan ini. Saya hanya ingin membagi kisah yang siapa tau bisa membuka mata kita, bahwa apapun yang kita lakukan tidak pernah terlambat selama kita mau berusaha.

Advertisements

8 thoughts on “Saya Tidak Tertinggal, Berhati-hati lah !

  1. puk puk puk.. sama choy gw juga nih harusnya udah lulus malah belom tp gw nikmatin aja ah, lulus cepet bukan penentu cepet dapet kerja yg kerja harusnya bersyukur

  2. Sukaaa sukaaa artikel ini… Dulu juga ngalamin hal yang sama Choy, tapi trust me…badai pasti berlalu. Cuekin apa kata negatif yang disebarkan orang-orang negatif, yang penting be yourself 🙂

  3. gue malah ga ada kenangan wisuda s1, choy
    gak ikut wisuda 😀
    cuman ikut wisuda d3 aja
    *tuh kan jalan orang untuk kuliah beda2 kok
    semangka kakak

    1. Yup! Hehe sebenernya bukan kepengen nulis pembedabedaan antara s1 dll sih mas disini, pengen nyampain intinya jalan tiap orang itu beda dan kita harus tetap semangat hehe!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s