Perkara “Move On”

Beberapa hari lalu gue dikejutkan oleh sebuah kabar di timeline facebook gue lantaran salah satu sahabat gue ternyata sudah lulus dan wisuda S1 nya. Gue senang melihat moment kegembiraan sahabat gue tersebut. Lebih senang ketika gue melihat kegembiraan momen tersebut dari postingan mantan gue sendiri waktu SMA dulu.

Ya, mantan gue sekarang pacaran sama sahabat baik gue sendiri, hubungan mereka pun sudah berlangsung sangat lama, ada kayaknya 4 tahun. Gue jujur bahagia liat hubungan mereka. Mereka berdua pasangan yang bahagia banget.

Disini gue gak akan berbicara panjang kenapa dan bagamaimana mereka bisa jadian dan kok gue bisa dengan mudahnya menceritakan itu di sini. Tapi disini gue mau bercerita gimana proses gue untuk move on dari hal tersebut.

Bagi gue move on itu mungkin adalah salah satu hal yang sulit gue lakukan dalam hidup selain berolah raga. Terlebih, bagi seseorang yang udah terlalu membekas di hati gue. Butuh waktu cukup lama bagi gue untuk dapat benar-benar move on dari mantan gue yang pertama. Dua tahun bagi bukan waktu yang sebentar. Dua tahun adalah waktu yang gue perlukan untuk mengobati luka hati dari berakhirnya hubungan yang berlangsung gak lebih dari satu semester. Gue butuh mengalihkan diri melalui banyak hal, mulai dari kerja, membaca buku, nonton film tiap malam minggu sendiri, dan lain-lain, itupun ditambah pengalihan dari sosok orang lain yang masuk dalam hidup gue. Proses move on adalah proses yang berat untuk gue saat itu.

Kini, gue harus merasakannya lagi. Hubungan gue sama pasangan gue kemarin merupakan hubungan terlama gue sama seseorang, hampir 2 tahun. Gue udah sayang dan berhenti di dia. Gue udah nyaman dan merasa dia yang paling pas dan sempurna buat nemenin hari-hari gue. Banyak masalah, udah kita laluin, dari yang kecil sampai yang besar. Kita berdua masih bertahan. Hingga suatu saat sebuah bom waktu meledak dan akhirnya hubungan kita harus berakhir. Sakit? Banget.Bayangin aja,saat lo lagi dipuncak sayang-sayangnya sama seseorang tetapi hubungan itu harus berakhir. Beberapa kali gue mencoba mempertahankan rasa dan mencoba memperbaiki, tapi gagal.

Pengen gue marah atau membenci dia karena rasa sakit ini, tapi gak bisa. Gue udah sayang banget sama itu orang sampe gue gak bisa membenci dia. Gue cuma bisa diam, apalagi setiap bertemu dan berpapasan sama dia. Gue pun gak bisa menyalahkan dia untuk semua kegagalan ini kok. Kalo kata temen gue sih, bukan mencari siapa yang salah dalam kegagalan hubungan, tapi carilah apa yang salah untuk diperbaiki ke depannya 🙂

Melupakan pun bukan cara yang tepat, karena setiap gue berusaha keras untuk melupakan dia, perasaan gue akan balik lagi bahkan menekan dengan gaya dua kali lebih besar.

Masa move on gue saat ini jauh lebih berat dari sebelumnya. Gue juga bingung kenapa gue susah banget move on dari dia. Padahal, sampai saat ini sudah hampir setahun gue putus dari dia, dan gue belum bisa bergerak jauh. Bahkan seminggu ini gue semakin sering memimpikan dia, memimpikan dia bersama orang-orang baru yang berbeda. Biasanya mimpi-mimpi tersebut selalu berakhir dengan tangis sesenggukan ketika gue bangun. Entah apa maksud dari semua mimpi itu. Bodoh, disini gue masih terpuruk, sedangkan dia, sepertinya sudah menemukan kebahagiaannya yang lain.

Beberapa kali hubungan gue dengan orang baru juga harus gagal karena gue yang belum bisa seutuhnya lupa dan lepas dari dia. Sekarang jika ada yang mendekat, gue selalu menjelaskan kondisi gue saat ini. Karena kalau ditutupi juga gak akan baik. Gue sadar bukan pelarian yang gue cari, tapi seseroang yang mau menerima keadaan gue dan mau membantu gue melewati masa-masa move on ini. Orang sabar dan berhati besar.

Mungkin hati gue masih belum rela melepaskan dia untuk ada dipelukan otang lain. Mungkin juga hati gue masih ingin terus menyayangi dan memiliki dia. Mungkin gue cuma takut gak akan bisa menghabiskan waktu berdua lagi sama dia (kenyataannya memang iya). Mungkin gue cuma belum bisa membungkus semua kenangan yang ada antara gue sama dia. Bukannya meninggalkan kenangan itu, justru gue malah memasukannya kedalam backpack dan membawanya bepergian kemanapun gue pergi. Ya pasti berat lah!

Gue harus lebih banyak belajar merelakan dan mengikhlaskan. Mungkin itu salah satu cara nya. Gue gak mau terus-terusan diem-dieman sama dia. Suatu saat entah kapan, gue pasti akan bisa lagi dekat dengan dia, meskipun bukan sebagai pasangan.

Suatu saat kita pasti akan tidak saling merasa canggung, bisa saling bercengkrama seperti layaknya sahabat seperti dulu. Suatu saat aku juga ingin bisa sayang sama kamu namun tidak disertai dengan efek baper. Karena aku akan selalu begitu. Menyayangi kamu tanpa alasan, menyayangi kamu apa adanya kamu, menyayangi kamu dari jauh. Hingga akhirnya kita akan sama-sama tau, perkara “move on” itu bukan soal waktu, tapi bagaimana kita bisa saling mengikhlaskan kepergian kita masing-masing dan bisa tetap saling menyayangi dengan kadar yang berbeda.

Gue ingin suatu saat gue juga bisa berbahagia melihat pasangan gue dengan orang lain tanpa perlu ada kesedihan, seperti halnya gue berbahagia melihat mantan gue sebelumnya bersama sahabat gue. Suatu saat gue juga yakin akan menemukan kebahagiaan gue, entah dengan siapapun itu 🙂

Untuk jawaban akan mimpi-mimpiku, semoga kamu bahagia :’) Aku sayang kamu.

Untuk hatiku, mari kita kembali melangkah 🙂

photo-by-danka-peter-n-261

Advertisements

14 thoughts on “Perkara “Move On”

  1. mampir lagi ke blognya mantan personel boyband 😀
    btw gw buka lewat internet desktop kok rada lama ya coy loadingnya, atau memang internet kantor gw ya yg lg lemot. hehe.
    komen gak nyambung sama artikelnya lanjut baca artikel lain 😀

  2. perasaan itu merupakan sebuah karunia bang,, dimana tempatnya ada dua dihati (untuk yg tak akan mati) dan ditangan (yg bersifat sementara. cukuplah perasaan disimpan ditangan jdi klo kehilangan sakitnya cukup ditangan bukan dihati heheh..
    yang abang lakuin “move on udah bener banget hehehe

  3. Setuju dengan Mbak Ira. This too shall pass. Kata orang “time will heal all wounds”. Dia bisa sembuh dan move on, bukan berarti dirimu juga tidak bisa kan, Mas.
    Semangat.

  4. semangat mas. move on emg lebih susah daripada harus milih baju pas diskon gede! btw, ceritanya hampir sama ama gue 😀 tetep semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s