What If You Were Me, What If I Were You

“Gimana kabar kamu sama dia?”
“Dia siapa?”
“Itu dia yang selalu komen di path kamu dan kasih sticker centil di Line”

“Hahaha kamu tuh ya, gak berubah kepo dan insecure nya..” , sambil mengelus wanita kesayangannya.

“Kamu juga gak berubah, genit! Udah deh ngaku aja, pake disembunyiin”

“Aku sama dia gak ada apa-apa, semenjak udahan sama kamu, aku gak sama siapa-siapa”

Wanita itu ingin mendebat, tapi iya tau bahwa yang dikatakan pria tersebut jujur . Tatapan teduhnya tidak pernah berubah, menenangkan.

“Kamu sendiri, setelah sama aku udah sama siapa aja?”

“Ih apaan sih kamu! Emang aku cewek murahan!” memasang raut wajah cemberut, sama seperti beberapa tahu lalu.

“Dasar jelek, udah sih jujur aja gak perlu pasang muka jutek defensif gitu” , pria itu tak kuasa menahan gemas nya untuk mencubit hidung wanita manis di depannya.

“Hmmmmmm… Lima, semuanya gak lebih dari sebulan, puas?”

“Hahahaha , gak. Puas untuk apa? Melihatmu gagal dan menderita? Emang aku anak kecil”

“Kirain ..”

“Enak ya jadi kamu, bisa gonta ganti pasangan secepat dan sebanyak itu, gak kaya aku yang untuk memulai hubungan baru aja susahnya minta ampun. Aku takut sakitnya sama kaya aku kehilangan kamu”

“Hehe , kamu gak pernah berjalan di atas sepatu yang aku pakai”

“Iyalah, masa aku pake heels”

“Ih, serius jelek!”

“Hahahahaha iya maaf.. Kamu kalo marah tetep gemesin yah, gak berubah”

“Hih! Kamu tuh gak pernah berubah , lagi ngomong serius dibercandain..

Kamu gak tau rasanya jadi aku, asal kamu tau gimana rasanya hilang arah dan gak tau harus ngapain ketika kamu yang biasanya ada sama aku tau-tau ilang. Cara aku ngelupain kamu gak bisa dengan aku sendiri, sibuk-sibuk dan lain sebagainya, aku butuh orang yang bisa nenangin aku, gantiin kamu, buat aku lupa sama kamu. Andai kamu jadi aku.”

“Ya, andai kamu juga jadi aku..”

Keheningan menyusup beberapa saat..

“Mungkin gak sih kalo kita emang harusnya balikan?” Wajah polos sang wanita seolah masih berharap ada secercah harapan.

“Mungkin, kita bukan ditakdirkan untuk bersama, tapi justru kita ditakdirkan untuk sendiri dulu masing-masing”

“Ohh ok”

“Hahhaha ngambek? Dasar. Udah ah, malam ini aku datang ke tempatmu kan mau melepas kangen. Flight ku jam 6 pagi ini loh, kamu mau ngabisin sisa waktu kita yang beberapa jam ini untuk ribut?”

“Gak, aku mau peluk kamu”

“Yaudah.. Good night”

“Good night, sayang kamu”

“Me too”

#cerpath

Listening to What If by Five for Fighting

Preview it on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s