Kapan Pulang?

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-3 

Pagi ini seperti biasa, kumulai hari dengan menyeruput kopi luwak-tentu bukan kopi luwak yang biasa terlihat di televisi-dari sudut ruangan favoritku. Tatapanku sejenak kosong memandang ke luar jendela tempat biasa aku melihatmu membuka pagar, yang kemudian disusul denganku yang menghampiri pintu depan untuk dapat segera memelukmu.

Rumput halaman rumah yang terlihat basah mengingatkanku pada hujan semalam. Selain hujan,  juga kesendirian yang kurasakan semalaman. Iya, kesendirian itu semakin kuat terasa ketika hujan turun di malam hari. 

Aku masih menunggu. Sampai kapan pun aku masih menunggumu, setidaknya kabar, sms, surat atau email darimu. Kamu bilang akan kembali pulang, kembali ke pelukanku. Maka janji itu yang aku pegang. 

Sudah tiga tahun berlalu semenjak kau pergi dan izin ingin bertemu orang tuamu,  “urusan keluarga” kau bilang. Tapi setelah hari itu, aku tak lagi pernah mendengar kabar dari mu hingga hari ini. Aku mencoba menghubungimu pun sepertinya sia-sia, no. HP-mu tidak pernah ada yang aktif selama 3 tahun ini. Begitupun social mediamu, mati. Ratusan email yang ku kirim pun tak kunjung kamu balas. Pada suatu hari, aku merasa hampir gila karena keadaan ini, karena rindu yang menyesakkan ini. “Kapan kamu pulang?”, ratapku.

Hari ini kuterima surat pertama dan kabar darimu. Semua pertanyaan dan kekhawatiranku terjawab. Rindu dan kesedihan yang selama ini kupendam luruh dalam bulir-bulir air mata yang menetes pada surat yang hanya berisi dua paragraf itu. Tak bisa kugambarkan kehancuran hati yang kurasakan pagi ini padamu. Kerinduan dan harapan dapat memelukmu meski hanya sekali lagi pun kurasa telah padam. Entah aku harus berbahagia atau sedih menerima kabar darimu setelah 3 tahun ini. Yang kutahu, mulai detik ini aku harus belajar mengikhlaskanmu. Mengikhlaskan dirimu dengan wanita yang dipilihkan orang tuamu. Mengikhlaskan mimpi dan harapan kita yang telah direnggut paksa. Lagi pula, dari awal pun kita sudah tau tidak ada mimpi dan harapan untuk orang seperti kita di negara yang menjunjung tinggi ke-Tuhanan. 

Ku harap kamu bisa benar-benar bahagia… Karena aku, entah untuk waktu berapa lama, tidak akan pernah bahagia tanpamu.

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s