Dia Seperempat Abad

Dulu, dia pikir kalau hidup itu akan selamanya menyenangkan. Iya, dulu ketika usianya masih sebiji jagung. Ketika cuma ada tawa, canda, bermainya kadang menangis ketika kemauannya untuk membeli sebuah mainan tidak ia dapatkan.

Kini, usianya seperempat abad. Ternyata, hidup itu isinya tidak hanya bahagia ya setelah ia lihat ke belakang. Perjuangan, kesedihan, kehilangan, kekecewaan, amarah, benci, takut, malu, persahabatan, dan lain sebagainya mengisi hidupnya selama 25 tahun belakangan.

Dulu, dia pikir kebahagiaan hanya miliknya, kini ia harus membagi kebahagiaannya dengan orang lain, dengan orang-orang terdekatnya. Kebahagiaan ternyata bukan miliknya seorang. Ya, ternyata ia sadari, semakin beranjak dewasa, ia merasa semakin banyak orang yang juga turut ia bahagiakan.

Usia seperempat abad mengajarkan dia banyak hal, terutama tentang bersyukur. Usia seperempat abad mengajarkan dia untuk terus berusaha menjadi lebih baik, karena baik saja tidak cukup. Usia seperempat abad mengajarkan dia untuk menghargai dan mencintai dirinya sendiri sebelum ia mampu mencintai orang lain.

Kini, ia berharap, akan ada seperempat abad lainnya yang dapat ia lalui. Akan ada mimpi-mimpi baru yang tercapai, dan akan ada kebahagiaan lain yang ia dapatkan…

Selamat menempuh seperempat abad selanjutnya 🙂

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Dia Seperempat Abad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s