Aku, Tuhan dan Hubungan di Antara Kami

Apa rasanya sih gak punya agama?

Gak tau..

Apa rasanya sih gak punya Tuhan?

Gak tau..

Gue gak tau akan jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Karena pertama, gue masih beragama dan kedua, gue masih percaya dan meyakini Tuhan gue adalah Allah SWT.

Tapi, entah kenapa gue merasa saat ini gue berada dalam dua situasi tersebut. Nah lho, maksudnya gimana?

Kalau boleh sedikit cerita, entah sudah berapa bulan atau berapa lama, gue meninggalkan sholat, kewajiban lima waktu gue sebagai seorang muslim. Gak hanya itu, gue juga udah beberapa bulan terakhir gak melaksanakan sholat Jumat yang juga kewajiban bagi umat muslim laki-laki.

Entah kenapa dan bagaimana awalnya gue meninggalkan itu semua. Gak, gue gak sedang mempelajari agama lain atau udah berpindah agama. Bukan juga karena rasa malas ya, beda sih ini dari masa malas, ini tuh gue merasa seperti terputus dan hilang arah aja.

Gue sangat mensyukuri hidup gue, gue juga tau Allah selama ini selalu memberikan nikmat dan karunia yang, rezeki dan sehat tanpa gue minta. Tapi entah kenapa gue gak ada dorongan untuk berbicara dengan-Nya. Gue lagi dalam fase di mana gue sangat jauh dan seperti gak saling kenal dengan-Nya. Walaupun gue tau, Ia selalu ada ngeliatin gue, mengawasi, dan memberikan nikmatnya dalam hidup gue. Tapi jujur, gue merasa hampa dan kosong terkadang dengan situasi ini.

Sepertinya ini bermula dengan seringnya gue melihat kelakukan saudara sesama muslim yang gak sesuai sama hati nurani gue, di media sosial, berita dan lain sebagainya. Gak dari teman, orang gak di kenal, atau pun saudara. Kadang ada beberapa hal yang kita lakukan ke sesama manusia, bikin gue jijik sendiri. Entah kenapa gue sekarang-sekarang ini suka benci sendiri dengan orang-orang yang merasa paling suci, merasa mereka paling benar, menganggap yang diluar mereka itu hina. Walaupun gue ada di sisi mereka, tapi gue merasa jijik jadi bagian mereka.

Karena pandangan gue ke merekalah, gue merasa itu memengaruhi kejiwaan gue serta cara pandang gue. Gue gak benci agama gue, gue kadang terlalu sebel sama para penganutnya. Hal itu yang bikin gue jadi ngerasa jauh dari agama gue. Gue gak bisa ada dalam lingkungan seperti itu.

Gue sadar itu gak bisa gue biarkan berlarut-larut. Tapi gue kemudian bertanya, untuk apa gue mengakhiri ya juga? Gue saat ini juga gak tau apa yang ingin gue cari dalam agama gue. Ketenangan? Rahmat? Surga?

Kemarin pagi gue entah kenapa memikirkan hal ini di atas ojek online. Tentang gue yang menjauh dari agama, menjauh dari Allah. Eh siangnya, entah kebetulan atau gimana. Ketika gue mengutarakan keadaan gue sama temen kantor, Mega, dia mengucapkan hal yang membuat gue sedikit tergelitik.

“Choy, apapun dosa kita, sholat aja Choy. Kadang orang karena udah berbuat dosa, dia jadi malu atau segan untuk sholat dan menghadap Allah. Yang penting sholat aja Choy.”

Dari perkataan dia siang itu, gue terasadar suatu hal. Gue lupa kalau sholat adalah salah satu cara buat gue untuk ngobrol dengan-Nya, cara di mana gue juga bisa cerita dengan bebas siapa diri gue, masalah gue, tanpa perlu takut apa penilaian dari-Nya. Sholat adalah cara gue untuk bisa lebih tenang, selain tentu ibadah dan kewajiban.

Gue mau kembali, kembali lagi seperti sedia kala. Tapi saat ini, gue gak tau, belum tau, apa yang gue cari. Tapi gue selalu percaya Ia akan selalu ada gak pergi.

Advertisements

11 thoughts on “Aku, Tuhan dan Hubungan di Antara Kami

  1. Allah SWT itu mahabaik dan mengetahui segala isi hati manusia. Yang terpenting hubungan dgn Sang Maha Segala Nya terus terjalin dan tebar kebaikan semampu yg bisa kita lakukan. Terlepas dari apa yang kita lakukan, biarkanlah “Orang” berbicara dan bertindak sesuai dgn apa yg menjadi keyakinanNya kita pun berhak melakukan apapun sesuai dgn apa yg kita yakini. Pada akhirnya kita hanya bisa “Bekerja” sesuai dgn kapasitasnya. Diluar itu, biarkanlah cara Tuhan “Bekerja” pada hati setiap manusia.

  2. Yups setuju banget samaa omongan temennya penulis, apapun dosa yang telah kita buat, jangan lupa sholat. Bahkan kalau profesinya (mohon maaf) pelacur, tetep dirikan sholat, in sya Allah dengan sholat itu kita bisa menjadi baik dan terhindar dari maksiyat karena sholat itu mencegah dari kemasiyatan dan kemungkaran.

  3. Aku bolak balik menimbang lho Dit buat komen di tulisanmu ini. Antara mau nulis tapi takut dianggap menggurui, tapi gak nulis komen kok aku ikut prihatin. Well, aku akhirnya milih nulis aja, yaaa siapa tau ada manfaatnya.

    Bisa jadi agak sedikit klise, tapi gak papa yaaa …

    Pertama-tama, aku sih mau bilang setuju dengan apa yang temanmu katakan. Apapun yang terjadi dalam hidupmu, janganlah meninggalkan shalat. Karena selain itu kewajiban, di dalamya juga ada barokah. Insya Allah dengan begitu hati dicerahkan, diberi hidayah. Karena aku teringat salah satu nasehat, bahwa sesungguhnya kita semua ini butuh hidayah. Hidaya bukan hanya dibutuhkan oleh mereka yang berbuat dosa atau sedang berubah haluan, namun juga mereka yang memang masih istiqomah.

    Yang kedua, sebenarnya aku agak memperhatikan ini sih, dari beberapa status atau postingan yang dibagikan di media sosialmu-. Soal kegelisahanmu, tentang perilaku beberapa muslim lainnya yang mungkin kurang patut. Saranku adalah, pertama: ketika mendengar sebuah berita, lihat dari mana berita itu berasal. Karena di dalam Islam pun ada tuntunannya, untuk mengolah berita yang kita dengar. Jika berita itu datang dari orang fasik, bisa jadi ia fitnah. Tapi seandainya berita itu benar, justru itu adalah peluangmu untuk menjadi ‘duta muslim’ yang baik. Tunjukkan jika tidak semua muslim seperti itu. Sebagaimana, tidak semua muslim juga memahami ilmu yang benar.

    Ya sudah, sekarang coba shalat lagi ya. Sempatkan juga untuk berdoa, insya Allah akan diberikan ketenangan. Karena jika sudah diberikan ketenangan, aku yakin dirimu tidak merasa membutuhkan apapun. Yang kau cari, akan datang dengan sendirinya.

    Tetap semangat 🙂

  4. Sudut pandang yang menarik..bila penyebab sebuah kejadian adalah A- tidak ada salahnya mencari A lain tapi yang A+ . Saya juga demikian. Di suatu komunitas saya berusaha menemukan orang yang menyenangkan dan sepemahaman dalam menerapkan kepercayaan. Memang harus dicari..walau harus keluar dari circle keseharian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s